Marketplace, website, WhatsApp, atau reseller?
Tempat jualan mana yang paling masuk akal untuk usaha saya?
Pelajaran ini belum terbuka
Materi di sini disusun berurutan supaya ceritanya nyambung. Selesaikan dulu:
Ke pelajaran yang terbukaLangkah 1 dari 5
"Pembelinya banyak di sana"
Selama ini CV Kemas Mandiri menerima pesanan lewat WhatsApp. Lalu datang tiga saran. Ada yang menyarankan masuk marketplace (toko online di aplikasi belanja) karena pembelinya banyak. Ada yang menyarankan membuat website supaya terlihat profesional. Ada juga yang menyarankan mencari reseller, yaitu orang yang membeli barang Anda lalu menjualnya lagi.
Semuanya terdengar masuk akal. Tetapi harga jual yang sama bisa menyisakan uang yang sangat berbeda.
Langkah 2 dari 5
Untung-rugi empat tempat jualan
Marketplace
Toko online di aplikasi belanja, seperti Shopee atau Tokopedia. Pengunjung dan cara bayarnya sudah tersedia. Tetapi ada potongan biaya, dan barang pesaing tampil tepat di sebelah barang Anda.
Website sendiri
Anda bebas mengatur tampilan dan cara orang memesan. Tetapi pengunjung tidak datang sendiri. Anda harus mendatangkannya.
WhatsApp
Enak untuk tanya jawab dan menghubungi lagi calon pembeli. Tetapi pencatatan pesanan, pembayaran, dan pengiriman sering masih manual.
Reseller
Barang Anda dijual lebih luas tanpa Anda harus hadir. Tetapi sisa uang per penjualan harus dibagi dengan mereka, dan cara mereka melayani pembeli tidak bisa Anda atur.
Barang yang memancing banyak pertanyaan, seperti pouch (kantong kemasan) dengan ukuran yang beragam, lebih cocok dilayani lewat WhatsApp. Barang standar seperti kotak makanan isi 100 bisa dicoba di marketplace kalau sisanya masih cukup.
Langkah 3 dari 5
Hitung sisa per penjualan
Catat semua biaya yang muncul untuk setiap barang yang terjual di tempat itu, lalu lihat sisanya. Lewat WhatsApp, satu pak kotak makanan seharga Rp180.000 menyisakan Rp45.000. Uang itu sudah dikurangi harga pabrik, ongkos kirim, dan potongan pembayaran. Bagaimana kalau lewat marketplace?
Animasi Satu pak kotak makanan Rp180.000 lewat marketplace
- Satu pak kotak makanan terjual di marketplace: Rp180.000.
- − Rp120.000 untuk harga beli dari pabrik.
- − Rp10.000 untuk ongkos kirim.
- − Rp5.000 untuk potongan pembayaran dan lain-lain.
- − Rp15.000 untuk potongan marketplace (angka latihan).
- − Rp5.000 untuk voucher yang ditanggung penjual.
- Sisa untuk biaya bulanan: Rp25.000. Lewat WhatsApp sisanya Rp45.000, karena tidak ada potongan marketplace dan voucher.
Tiga potongan pertama sama dengan penjualan lewat WhatsApp. Marketplace menambah potongan Rp15.000 dan voucher Rp5.000. Jadi sisanya Rp45.000 dikurangi Rp20.000, tinggal Rp25.000 per pak. Potongan Rp15.000 itu angka karangan untuk latihan.
Biaya bulanan CV Kemas Mandiri Rp4.500.000. Kalau dibagi sisa Rp25.000, mereka perlu menjual 180 pak sebulan untuk menutupnya. Lewat WhatsApp cukup 100 pak.
Potongan marketplace sering berubah dan bisa berbeda untuk tiap jenis barang. Jangan memakai angka dari kata orang. Buka halaman biaya resmi marketplace yang Anda pertimbangkan, lalu hitung dengan harga Anda sendiri.
Langkah 4 dari 5
Jangan lupa kesanggupan
Cek juga kesanggupan Anda. Sanggupkah Anda membalas chat, mengemas, dan mengirim tepat waktu di tempat itu? CV Kemas Mandiri hanya punya satu admin, Mbak Lia.
Coba putuskan
CV Kemas Mandiri ingin mencoba marketplace. Potongan marketplace belum dicek di halaman resmi.
Bagaimana sebaiknya mereka memulai?
Pertimbangkan lagi
Jangkauannya bisa bertambah. Tetapi dengan sisa Rp25.000 per pak, mereka harus menjual 180 pak sebulan. Lewat WhatsApp cukup 100 pak. Mbak Lia juga harus melayani pesanan lebih cepat. Langkah ini baru masuk akal setelah hitungannya terbukti.
Pertimbangkan lagi
Sisa per pak tetap besar dan admin tidak kewalahan. Pilihan ini wajar kalau WhatsApp belum digarap penuh. Tetapi mereka jadi tidak tahu apakah ada pembeli baru di luar kenalan yang sekarang.
Pilihan paling tepat
Betul. Angka biayanya jadi pasti. Karena ujinya kecil, WhatsApp tetap jadi tempat jualan utama. Hasilnya mungkin tidak besar, tetapi keputusan berikutnya diambil dari catatan nyata.
Coba tempat jualan baru dengan angka biaya resmi dan dalam jumlah kecil, sebelum memindahkan penjualan.
Langkah 5 dari 5
Jebakan: pengunjung belum tentu pembeli
Banyak yang mengira website yang ramai pengunjung pasti menghasilkan banyak penjualan. Kenyataannya, orang bisa berhenti di setiap langkah.
Animasi Website sebulan, dari pengunjung sampai pesanan
- 400 mengunjungi website.
- 120 membuka halaman harga. Itu 30% dari 400 mengunjungi website, atau 3 dari 10.
- 20 menekan tombol pesan. Itu 16,7% dari 120 membuka halaman harga, atau 1 dari 6.
- 4 benar-benar memesan. Itu 20% dari 20 menekan tombol pesan, atau 1 dari 5.
- Dari 400 pengunjung, hanya 4 yang memesan. Itu 1 dari 100 orang.
Angka di atas hanya contoh. Orang bisa berhenti karena harganya tidak jelas, cara pesannya rumit, atau mereka memang tidak sedang butuh barangnya.
Pelajaran selesai
Rangkuman
Tiap tempat jualan punya kelebihan, biaya, dan batasan. Bandingkan uang yang tersisa dari tiap penjualan dan kesanggupan Anda mengurusnya. Ramai pembeli saja belum cukup.
- Marketplace, website, WhatsApp, dan reseller masing-masing punya kelebihan, biaya, dan batasan.
- Hitung sisa per penjualan dengan angka dari halaman biaya resmi. Cek juga apakah Anda sanggup mengurusnya.
- Website yang ramai dikunjungi belum tentu ramai pesanan.
Jualan offline, online, atau gabungan? · Peta belajar · Ditinjau 27 Oktober 2026 · Usaha dan angka di pelajaran ini fiktif, untuk belajar.